Semilir aroma nikotin menyeruak keseluruh ruangan Asapnya sengaja kau hirup dalam-dalam Keluar menyelinap lewat hidung Lalu marasuk ke rongga paru-paru yang telah terbiasa kau beri makan kepulan asap yang setiap harinya setia menampung zat kimia berbahaya rokok, adalah sahabat setia tak peduli dirimu susah maupun senang batangnya tak pernah libur kau hisap abunya tak pernah lupa kau jentikan dengan jemari bukan hanya kesenangan yang dicari tapi kesetiaan dari sebatang rokok yang tak pernah meninggalkanmu dan yang tak pernah akan kau tinggalkan... Sumber : http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/08/21/puisi-rokok/
»» READMORE...
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Januari 2012
Sabtu, 21 Januari 2012
Beri Daku Sumba
Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebuaneh, aku jadi ingat pada UmbuRinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbukaDi mana matahari membusur api di atas sanaRinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjakaBilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung hargaTanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumputKleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembalaBerdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari lautDan angin zat asam panas dikipas dari sanaBeri daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi malam hariBeri daku sepucuk gitar, bossa nova dan tiga ekor kudaBeri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hariBeri daku ranah tanpa pagar, luas tak terkata, namanya SumbaRinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kudaYang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauhSementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tuaDan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduhRinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbukaDi mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguhRinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kudaYang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.
»» READMORE...
Taufiq Ismail (1970 )
Label:
Puisi
Langganan:
Postingan (Atom)

